Berawal Coba-coba, Jadi Andalan Sumber Penghasilan

BERTANI lele dumbo, kini menjadi nama yang melekat bagi warga Desa Wonosari, Kecamatan Bonang. Hampir semua warga desa berpenduduk 1.120 keluarga menetapkan pencaharian hidupnya dari pembudidayaan ikan lele. Hasil pertanian mereka, selain laku keras untuk konsumsi lokal Demak, kini juga merajai pemasaran ikan di Semarang, Kudus hingga Pekalongan. Dalam setiap bulannya, desa ini mampu menghasilkan 150 ton hingga 300 ton.

Ketika memasuki desa yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari Kota Demak, terpampang tugu batas desa betuliskan Wonosari dan di atasnya terdapat patung lele berukuran besar. Patung itu memang untuk menguatkan citra sebagai pembudidaya ikan yang memiliki ciri khas berkumis.

Sepanjang jalan desa, baik sebelah kanan maupun kiri jalan, dengan mudah kita jumpai kolam tambak ikan. Bahkan, beberapa rumah warga dikelilingi tambak air tawaran dengan ukuran yang variatif. Sebagian besar tambak berupa kolam tanah, sedangkan lainnya menggunakan kolam berpagar semen.

Menurut Carik Desa Wonosari Muhson SH, mayoritas warganya bekerja di sektor perikanan. Bagi para kaum hawa, mereka menjual ikan laut seperti ikan kakap. Para kepala keluarga mengelola tambak lele. Untuk menambah penghasilan, di sepanjang bantaran atau tanggul kolam mereka tanami jambu merah delima dan jambu citra. Perolehan dari tanaman buah itu juga tidak kalah menjanjikan. Setiap memanen, satu pohon bisa menghasilkan sekitar satu juta rupiah. ”Barangkali ini kelebihan yang diperoleh petani di sini. Kebetulan sekali tanahnya cocok untuk tanaman jambu.”

Sudah sejak awal tahun 1994, para petani di situ mengalihkan pertanian tanaman pangan ke perikanan. Beberapa di antara mereka bahkan menyewakan sawahnya dan lebih memilih mengelola tambak. Ketertarikan warga terhadap budi daya lele, kerana dipandang lebih menjanjikan dibandingkan dengan bercocok tanam padi atau palawija.

Bermula ketika salah seorang warga, Eko Catur (43) merintis bertambak lele dengan tiga kolam yang masing-masing berukuran 7 x 10 meter. Di dalam kolam yang mengandalkan pompa air sungai itu, dia menebar 15.000 bibit lele. Pembudidayaan tersebut dia lakukan dengan melibatkan para petani sekitar.

Tiga bulan kemudian, dirinya mulai memanen dan hasilnya sangat menggembirakan. ”Saat itu hampir semua lele yang saya pelihara hidup dan perolehan hasil panenannya lebih baik dari hasil bertani di sawah,” kenang Eko, yang kini dipercaya menjadi Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Lele ”Sarimino”.

Kesuksesannya itu ternyata menyulut semangat warga lain, hingga mayoritas dari mereka bermata pencaharian hidup dari bertambak ikan lele. Sebelumnya, warga ikut mencoba-coba dengan pendampingan Eko Catur. Sekarang, paling sedikit 500 kepala keluarga mengandalkan hidup dari budi daya tersebut. Sementara, jumlah lokasi tambak tidak kurang dari 1.000 kolam.

Bagi mereka, budi daya lele tergolong mudah dan cukup menjanjikan. Hewan yang hidup dengan air tawar relatif mudah pemeliharannya, karena tahan di air keruh. Selain itu, masa panen hanya membutuhkan waktu tiga bulan. Kebanyakan warga memiliki tiga kolam tambak. Untuk satu kolam diisi ikan bibit kecil, kolam kedua ikan pindahan yang sudah berumur sedang, dan kolam lainnya untuk ikan yang siap panen.”Dengan demikian, setiap bulan selalu saja ada lele yang dipanen. Setiap bulan, khusus Wonosari mampu menghasilkan 150-300 ton lele,” paparnya.

Kemudahan lain, dalam pemberian makan. Selain dengan berbagai jenis makanan khusus lele, hewan ini juga makan ikan kering. Untuk pengadaan benih anakan lele, mereka tidak lagi mendatangkan dari daerah lain, karena sudah bisa melakukan pembibitan sendiri. Setiap ekor benih ukuran empat sampai tujuh hari dibeli seharga Rp 65. Setelah berusia tiga bulan, petani tidak perlu repot-repot menjual karena sudah ada bakul atau pembeli yang datang. ”Saat ini harga dari petani per kilogramnya mencapai Rp 7.000, kalau di pasar Rp 10.000.”

Eko menuturkan, ketika terjadi gempa bumi di DIY dan Klaten Jateng, sempat memengaruhi harga jual lele. Sebab, ikan dari Jatim yang biasa memasok ke daerah itu beralih ke Semarang. Namun pergeseran harga tersebut tidak terlalu lama, karena kualitas hasil daerahnya lebih baik daripada asal Jatim.

Keberhasilan Desa Wonosari ini mulai dilirik oleh desa lain. Beberapa petani di Desa Bonang, kemudian Desa Pecabean, Demak Kota, dan Trengguli, Wonosalam mengelola tambak lele. Pembudidayaan ikan yang menjanjikan tersebut perlu lebih mendapat perhatian Kantor Perikanan dan Kelautan. Sebab, selama ini para petani menilai perhatian terhadap mereka berkurang. (Hasan Hamid-16s)

This entry was posted in Beternak, Lele. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s